Tsundere

Badanku terhimpit diantara desakan orang-orang. Lautan lightstick menyala-nyala membutakan mata. Setiap orang mengangkat kamera membuat pandangan terhalang. Aku masih sempat menangkap ekspresi wajah itu. Tubuhku pun mendadak beku.

***

Tsundere. Begitu orang-orang menyebutnya. Karakter yang ketika kamu melihatnya maka orang yang mempunyai karakter tersebut seakan-akan memiliki sikap yang sinis, cuek, angkuh dan sombong namun di satu sisi sebenarnya orang tersebut mempunyai sikap yang manis dan baik.

Ketika kamu pertama kali melihatnya bisa saja kamu akan membencinya namun sebaliknya bisa jadi kamu akan penasaran kemudian terperangkap dan jatuh hati tak terkira. Semuanya itu terpancar pada senyum dan ekspresi wajahnya.

Aku sendiri tak tahu apakah itu sekedar ekspresi wajah atau memang dia memiliki sikap Tsundere seperti yang digambarkan. Yang jelas, aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yg begitu mengagumi dan kecanduan untuk melihatnya.

Malam itu aku berkesempatan melihat ekspresi wajah itu secara langsung setelah sekian lama hanya bisa melihatnya melalui layar kaca. Seorang teman memberikan pesan kepadaku bahwa aku harus bisa mengabadikannya melalui foto. Foto adalah tentang kenangan, bahwa foto akan membuat suatu hal menjadi abadi dalam ingatan.

Sayangnya tak satupun foto yang bisa ku ambil. Aku terlalu takjub akan pesonanya, begitu takluk hingga tak bisa berbuat apa-apa. Aku sungguh-sungguh seperti terhipnotis.

Aku tak habis akal, aku mengabadikannya lewat tulisan.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s